Pencari kayu bakar yang jujur.
Pada suatu hari, di hutan yang rindang terdapat seorang anak yang bernama sastra, ia sedang memotong kayu. Ia memotong beberapa kayu, satu demi persatu kayu dipotong olehnya sehingga tak terasa waktu pun cepat berlalu hari pun sudah petang. karena hari sudah petang ia pun pergi ke pasar untuk menjual kayu-kayunya. Sebelum pergi ke pasar ia pun berpamitan dengan ibunya. Sastra pun menghampiri ibunya, Ibunya berkata "nak,apa kamu mau berangkat sekarang?, nanti habis dari pasar langsung pulang yaa jangan mencari kayu bakar lagi". Sastra pun hanya mengangguk-nganggukan kepalanya, pertanda ia menuruti perintah Ibunya. Ia pergi ke pasar dengan membawa kayu-kayunya, setelah sampai di pasar ia pun menyerahkan kayu-kayunya kepada pedagang disana. Saat menyerahkan kayu-kayunya kepada Pak tua, Pak tua pun berkata "untung saja kau cepat datang nak,Bapak sudah kehabisan kayu bakar, ya itu lihat habis kayu bakarnya. Bapak minta dicarikan lagi ya, yang banyak! bapak banyak jualan hari ini." Setelah mengatakan seperti itu, Pak tua pun segera membayar kayu-kayu yang di bawa oleh satria.
Satria pun melanjutkan perjalanannya tetapi tidak untuk pulang kerumah, melainkan mencari kayu seperti yang diminta oleh pak tua. Sepertinya ia melupakan nasehat ibunya agar segera pulang kerumah dan tidak mencari kayu bakar lagi. Di perjalan ia bersenandung ria yang ditemani kicauan burung yang sangat indah dan aroma bunga-bunga yang sangat ia sukai. Setelah menemukan pohon yang letaknya di tepi sungai, ia pun segera memotong batang pohon tersebut menjadi beberapa bagian. Tetapi saat sastra sedang memotong pohon tersebut, kapak yang ia gunakan tiba-tiba patah,dan kapak tersebut masuk ke dalam sungai. Sastra pun diam di tepian sungai, ia sangat bingung bagaimana cara mengambil kapaknya, karena sungai itu sangat dalam. Saat Satria sedang melamun tiba-tiba ada seorang kakek tua yang berada disampingnya. Kakek tua tersebut berkata "kakek adalah penunggu disini,kenapa kamu sendiri disini? apa yang kamu inginkan nak,mungkin kakek bisa membantu." Satria pun menjelaskan kejadian yang telah dialaminya dengan bahasa isyarat. Dan kakek pun berkata "oh jadi kapakmu jatuh di sungai ya cu,dan kamu bisu ya cu?" Sastra pun hanya mengangguk-nganggukkan kepalanya. "kakek akan membantu untuk mengambilkan kapakmu." ucap kakek. Tiba-tiba saja muncul kapak berwarna perak dari dalam sungai. Dan kakek pun berkata "apakah ini kapakmu cu? kapak ini sangat bagus bahannya terbuat dari perak, pastilah kapak ini kapak yang mahal. Ini kapakmu bukan?" Sastra menggeleng-gelengkan kepalanya pertanda itu bukan kapak yang dimilikinya. "Jadi ini bukan kapakmu ya?" ucap kakek. Sastra pun menggangguk-nganggukkan kepalanya. Kakek pun berkata "baiklah kakek akan mengambilkan kapak yang satu lagi, mungkin itu punyamu." Dan mucullah sebuah kapak yang terbuat dari emas, "yang ini kakek sudah yakin,ini pasti kapakmu karena terbuat dari emas tentu saja kapak ini sangat mahal,ya ini kapakmu bukan?" Sastra hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. "jadi ini bukan kapakmu ya?" ucap kakek. Dan sastra mengangguk-nganggukkan kepalanya. "baiklah kakek ambilkan kapak yang satu lagi,mungkin itu punyamu." Dan muncul lah sebuah kapak, sastra pun menepukkan tangannya dan tersenyum. Kakek pun berkata "oh ini kapakmu cu, kapak yang terbuat dari besi yang sangat jelek dan berkarat ini." Sastra pun mengangguk-nganggukkan kepalanya. "cu kakek memang sengaja mengujimu,dan kamu adalah anak yang sangat jujur, jadi kakek akan menghadiahimu beberapa keping uang mas dan kamu bisa gunakan untuk hidup dengan nenekmu".
Demikianlah cerita sastra yang rajin dan jujur,karena kejujurannya ia akhirnya mendapatkan hidup yang bahagian dengan Ibunya.
Komentar
Posting Komentar